KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena kami dapat menyelesaikan Makalah ini.
Penyusunan Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia tentang
Kalimat Efektif. Selain itu tujuan dari penyusunan Makalah ini juga untuk
menambah wawasan tentang pengetahuan Bahasa secara meluas. Kami juga
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Tri Budiarta selaku dosen Bahasa
Indonesia kami yang telah membimbing kami agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya kami menyadari bahwa Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami menerima kritik dan saran
agar penyusunan Makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Untuk itu kami
mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
Depok, 05 Oktober 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................. i
DAFTAR ISI ....................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
A. Latar Belakang.............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah......................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan........................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................... 3
A. Pengertian Kalimat Efektif............................................................. 3
B. Unsur-unsur Kalimat Efektif........................................................... 3
C. Syarat-syarat Kalimat Efektif......................................................... 3
D. Ciri-ciri Kalimat Efektif.................................................................. 3
E. Struktur Kalimat Efektif................................................................. 9
F. Ketidakefektifan Kalimat............................................................... 10
BAB III PENUTUP.................................................................................. 11
A. Kesimpulan................................................................................... 11
B. Saran ....................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 12
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia
dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi
pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis.
Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar
apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh
pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik
disebut dengan kalimat efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan
gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara
tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat
memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang
dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu
tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami
apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.
Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan
pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan
eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh
dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu
dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan
keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim, 1994:86).
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang
tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara
lain, mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau
bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud
kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan
kenyataan inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan segala
permasalahannya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang rumusan masalah diatas, pemakalah merumuskan :
1. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif ?
2. Apa saja unsur-unsur kalimat efektif ?
3. Apa syarat terjadinya kalimat efektif ?
4. Apa ciri-ciri kalimat efektif ?
5. Bagaimana struktur kalimat efektif ?
6. Apa yang menyebabkan ketidakefektifan
kalimat ?
C.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar
belakang dan rumusan masalah, penulis membuat tujuan penulisan yaitu :
mengetahui dan memahami penggunaan kalimat efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran
atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang
lain.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan
gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh
pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran
kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar
atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat
mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca
dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa
yang dimasud oleh penulis atau pembicaranya.
B.
Unsur-unsur Kalimat Efektif
Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku
tata bahasa Indonesia lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran
kata dalam kalimat, yaitu subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel),
dan keterangan (Ket). Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri
atas dua unsur, yakni subjek dan predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap,
dan keterangan) dalam suatu kalimat dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau
wajib tidak hadir.
C.
Syarat-syarat Kalimat efektif
Syarat-syarat kalimat efektif adalah sebagai berikut:
1. Secara
tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2. Mengemukakan
pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang
dipikirkan pembaca atau penulisnya.
D.
Ciri-ciri Kalimat Efektif
Untuk
dapat mencapai keefektifan, suatu kalimat harus memenuhi paling tidak enam
syarat berikut, yaitu adanya:
1. Kesepadanan
Yang dimaksud
dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur
bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan
gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Kesepadanan kalimat
itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:
a. Kalimat
itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas.
Ketidakjelasan
subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak
efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan
menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai,
tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
Contoh:
·
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus
membayar uang kuliah. (Salah)
·
Semua
mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)
b.
Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh:
·
Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para
dosen.
·
Saat itu saya kurang jelas.
Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki
dengan cara berikut :
·
Dalam
menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
·
Saat itu
bagi saya kurang jelas.
c.
Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada
kalimat tunggal.
Contoh:
·
Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak
dapat mengikuti acara pertama.
·
Kakaknya membeli sepeda motor Honda.
Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama,
ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan
penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai
berikut:
·
kami
datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Atau
Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
·
Kakaknya
membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
d.
Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
·
Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa
Melayu.
·
Sekolah kami yang terletak di depan bioskop
Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut:
Perbaikannya adalah sebagai berikut:
·
Bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
·
Sekolah
kami terletak di depan bioskop Gunting.
2. Keparalelan
Yang dimaksud
dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat
itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama
menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a. Harga minyak
dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b. Tahap terakhir
penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan,
pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat (a) tidak
mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri
dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat
diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara
luwes.
Kalimat (b) tidak
memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya,
yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan
baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan
tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan
tata ruang.
3. Ketegasan
Yang dimaksud
dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok
kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi
penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk
penekanan dalam kalimat.
a.
Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat
(di awal kalimat).
Contoh:
·
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun
bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden
mengharapkan.
Contoh:
·
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun
bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan
presiden. Jadi, penekanan kalimat
dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
b.
Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
·
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi
berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Seharusnya:
·
Bukan
seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada
anak-anak terlantar.
c.
Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
·
Saya suka
kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
d.
Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan
Contoh:
·
Anak itu
tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
e.
Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
·
Saudaralah
yang bertanggung jawab.
4. Kehematan
Yang dimaksud
dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa,
atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus
menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di
sini mempunyai arti penghematan
terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata
bahasa.
Ada beberapa kriteria
yang perlu diperhatikan.
a.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan
pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:
·
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke
tempat itu.
·
Hadirin serentak berdiri setelah mereka
mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai
berikut.
·
Karena
tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
·
Hadirin
serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
b.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan
pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Perhatikan contoh:
·
Ia memakai baju warna merah.
·
Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kata merah sudah mencakupi kata
warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata
burung.
Kalimat itu dapat diubah menjadi
·
Ia memakai
baju merah.
·
Di mana
engkau menangkap pipit itu?
c.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan
kesinoniman dalam satu kalimat.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah
ini.
·
Dia hanya membawa badannya saja.
·
Sejak dari pagi dia bermenung.
Kata naik bersinonim dengan ke atas. Kata turun bersinonim dengan ke bawah. Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
·
Dia hanya
membawa badannya.
·
Sejak
pagi dia bermenung.
d.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak
menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Misalnya:
Bentuk tidak baku : para tamu-tamu, beberapa orang-orang
Bentuk tidak baku : para tamu-tamu, beberapa orang-orang
bentuk baku : para tamu, beberapa
orang.
5. Kecermatan
Yang dimaksud
dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda. Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan
kalimat berikut.
a.
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima
hadiah.
b.
Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat (a) memilikimakna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa
atau perguran tinggi.
Kalimat (b) memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu
rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut.
·
Yang diceritakan menceritakan tentang
putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
Kalimat ini salah pilihan katanya
karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat
itu dapat diubah menjadi
·
Yang
diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
6. Kepaduan
Yang dimaksud
dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu
sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
a. Kalimat
yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.Oleh karena itu, kita hindari
kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Misalnya:
·
Kita harus dapat mengembalikan kepada
kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa
kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian
manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab
b. Kalimat
yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif
persona.
Contoh:
·
Surat itu saya sudah baca.
·
Saran yang dikemukakannya kami akan
pertimbangkan.
Kalimat di atas tidak menunjukkan
kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu
berbentuk
·
Surat itu
sudah saya baca.
·
Saran yang
dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
c.
Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata
seperti daripada atau tentang antara
predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini :
·
Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
·
Makalah ini akan membahas tentang desain interior
pada rumah-rumah adat.
Seharusnya:
·
Mereka membicarakan
kehendak rakyat.
·
Makalah
ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
7. Kelogisan
Yang dimaksud dengan
kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya
sesuai dengan ejaan yang berlaku.
E. Struktur Kalimat Efektif
Struktur kalimat efektif
haruslah benar. Kalimat itu harus memiliki kesatuan bentuk, sebab
kesatuan bentuk itulah yang menjadikan adanya kesatuan arti. Kalimat yang
strukturnya benar tentu memiliki kesatuan bentuk dan sekaligus kesatuan arti.
Sebaliknya kalimat yang strukturnya rusak atau kacau, tidak menggambarkan
kesatuan apa-apa dan merupakan suatu pernyataan yang salah.
Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur atau bentuk
yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya (yang pada umumnya terdiri
dari kata) harus menempati posisi yang jelas dalam hubungan satu sama lain.
Kata-kata itu harus diurutkan berdasarkan aturan-aturan yang sudah dibiasakan.
Tidak boleh menyimpang, aalagi bertentangan. Setiap penyimpangan biasanya akan
menimbulkan kelainan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat pemakai bahasa
itu.
Misalnya, Anda akan menyatakan Saya menulis surat buat
papa. Efek yang ditimbulkannya akan sangat lain, bila dikatakan:
1. Buat
Papa menulis surat saya.
2. Surat
saya menulis buat Papa.
3. Menulis saya surat buat Papa.
4. Papa
saya buat menulis surat.
5. Saya
Papa buat menulis surat.
6. Buat
Papa surat saya menulis.
Walaupun kata yang digunakan dalam kalimat itu sama, namun
terdapat kesalahan. Kesalahan itu terjadi karena kata-kata tersebut (sebagai
unsur kalimat) tidak jelas fungsinya. Hubungan kata yang satu dengan yang lain
tidak jelas. Kata-kata itu juga tidak diurutkan berdasarkan apa yang sudah
ditentukan oleh pemakai bahasa.
Demikinlah biasanya yang terjadi akibat penyimpangan terhadap
kebiasaan struktural pemakaian bahasa pada umumnya. Akibat selanjutnya adalah
kekacauan pengertian. Agar hal ini tidak terjadi, maka si pemakai bahasa selalu
berusaha mentaati hokum yag sudah dibiasakan.
F. Ketidakefektifan Kalimat
Menurut Nazar (1991, 44:52) ketidakefektifan kalimat
dikelompok-kan menjadi :
1.
Ketidaklengkapan unsur kalimat,
2.
Kalimat
dipengaruhi bahasa Inggris,
3.
Kalimat
mengandung makna ganda,
4.
Kalimat
bermakna tidak logis,
5.
Kalimat
mengandung gejala pleonasme, dan
6.
Kalimat
dengan struktur rancu.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran
penulis atau pembicara secara tepat sehingga pndengar/pembaca dapat memahami
pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimasud oleh
penulis atau pembicaranya.
Unsur-unsur dalam kalimat meliputi : subjek (S), prediket
(P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket).
Ciri-ciri
kalimat efektif yaitu : Kesepadanan, keparalelan, ketegasan, kehematan,
kecermatan, kepaduan, kelogisan.
Ketidakefektifan kalimat disebabkan oleh Ketidaklengkapan
unsur kalimat, kalimat
dipengaruhi bahasa Inggris, kalimat
mengandung makna ganda, kalimat
bermakna tidak logis, kalimat
mengandung gejala pleonasme, dan kalimat
dengan struktur rancu.
B.
Saran
Saran kami, Hendaklah
mahasiswa dapat mengetahui dan dapat memahami penggunaan kalimat yang efektif,
sehingga kita bisa mempertahankan penggunaan bahasa yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Lukman dkk. 1991. Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa.
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia baku. Bandung : Pustaka Prima.
Mustakim. 1994.
Membina Kemampuan berbahasa: Panduan ke Arah Kemahiran Berbahasa. Jakarta :Gramedia pustaka
Prima.
http://delta-nets.blogspot.com (diunduh tanggal 05 Oktober 2013)
kalimatefektif2013.blogspot.com/ (diunduh tanggal 05 Oktober 2013)
http://alvirizka.aldyza.com/wp/2013/02/makalah-kalimat-efektif-dalam-bahasa-indonesia/ (diunduh tanggal 05 Oktober 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar